Sinopsis : INSIDIOUS Chapter 2

Insidious 2 dimulai saat film pertamanya berakhir. Yang sudah nonton tentu ingat,Insidious besutan James Wan dan diproduseri Oren Peli, sang kreator Paranormal Activity, punya ending yang mencengangkan. Sebuah kelokan cerita alias twist yang akan dikenang.


SPOILER ALERT buat yang belum nonton film pertama! Insidious pertama berakhir dengan fakta: hantu dari dunia lain terbawa ke alam nyata. Banyak film horor klasik menggunakan teknik open ending ending begini demi menghentak penonton di akhir cerita. Tujuannya agar ketika film usai, penonton pulang dengan rasa penuh tanya dan membayangkan horor belum berakhir.
Yang langsung teringat di kepala saat menulis ulasan ini untuk ending model begitu adalah adegan pamungkas The Omen (1976) ketika penonton diberi tahu Damien (diperankan Harvey Stephens) anak setan yang jadi yatim piatu akhirnya malah diadopsi Presiden Amerika. Tatapan si anak setan di penghujung film ke penonton seakan menegaskan, setan yang menang karena sekarang ia tinggal bersama orang paling berkuasa di dunia (baca: diangkat anak oleh Presiden AS).
Namun ending macam ini menggoda sineas untuk melanjutkan ceritanya demi memuaskan rasa penasaran penonton. Tentu, pada gilirannya kelak, tujuan utama pemenuhan dahaga itu adalah penonton berduyun-duyun menonton kisah lanjutannya.
***
Syahdan, di Bab 2 Insidious selain mengawali cerita dari mana film pertamanya berakhir cerita juga ditarik ke belakang ke tahun 1980-an di masa kecil tokoh kita, Josh Lambert. Elise (Lin Shaye), cenayang yang membantu keluarga Josh di film pertama juga masih muda. Elise muda menghipnotis Josh untuk diminta di mana saja penampakan makhluk gaib yang mengganggunya di rumah.
Balik ke masa kini, Renai (Rose Byrne) ditanyai polisi karena Josh (Patrick Wilson) dicurigai membunuh Elise tua (ini terjadi di akhir film pertama). Polisi tak punya cukup bukti menjerat Josh. Ia dilepas. Renai dan Josh melanjutkan hidup bersama anak-anak mereka.
insidious-chapter-2-patrick-wilson1-600x400
Dari sini cerita horor sesungguhnya dimulai. Sedikit demi sedikit Renai kembali diganggu penampakan hantu di rumahnya. Film kemudian menyuguhkan pada kita dengan premis yang sudah kita dengar dari film lain: bukan rumahnya yang berhantu, tapi penghuninya yang dihantui.
Dalam Bab 2 Insidious, "It's not the houseit's Josh." Lebih jelasnya, bukan rumahnya yang berhantu, tapi Josh yang "dihuni" hantu. Jiwa Josh tertinggal di dunia antara yang mati dengan yang hidup. Yang menghuni tubuh Josh adalah orang lain.
Siapa?
Mengungkap siapa yang menghuni tubuh Josh apalagi motivasinya adalah inti dari bab 2. Saya tak hendak mengungkapnya di ulasan ini. Yang hendak saya ulas, bab 2 ini terasa mengulang premis franchise horor lain, tepatnya film kedua Paranormal Activity.
Paranormal Activity yang berkisah tentang sejoli yang rumahnya dihantui lalu merekam setiap sudut rumah untuk mencari bukti penampakan hantu, dibuat Oren Peli dengan bujet sangat murah tapi mampu membuat penonton ketakutan dan sukses berkali-kali lipat. Paranormal Activity memanfaatkan model cerita ala dokumenter alias mockumentary (dokumenter bohongan).
Franchise ini kemudian melanjutkan kisahnya dengan premis ya itu tadi, bukan rumahnya yang berhantu, tapi penghuninya yang diikuti hantu kemana pun. Film kedua hadir memberi penjelasan kenapa penghuni rumah selalu diikuti makhluk gaib sepanjang hidup mereka. (Baca ulasan Paranormal Activity 2 di sini.)
Insidious, yang diproduseri Peli dan dibesut James Wan, sejatinya juga berkisah tentang penghuni rumah yang dihantui dedemit. Memilki kesamaan premis sedikit bikin minusBab 2 Insidious. Terutama bila Anda mengagungkan orisinalitas. Kenyataan bahwa filmnya punya premis yang sama dengan film horor lain ciptaan mereka sebelumnya, menandakan sineas-sineas horor yang kita kira punya gagasan-gagasan cemerlang, seperti Oren Peli dan James Wan, mulai kehabisan ide cerita orisinil.
insidious-chapter-24-600x400
Namun, pertanyaan yang juga menarik dijawab, jika kisahnya tak asli, apa penontonnya peduli?
Di sini Bab 2 Insidious menemukan dilemanya, terutama bagi saya. James Wan adalah sineas horor jempolan yang sudah menggarap film Insidious pertama, Saw, serta The Conjuring. Artinya, membuat penonton ketakutan adalah keahliannya.
Di Bab 2 Insidious, Wan tahu kapan saja penonton dibuat ketakutan. Ia mengatur tempo kapan hantu-hantunya muncul disertai "cerita penjelasan" kenapa semuanya terjadi. Dan hebatnya, kita masih tetap dibuatnya diteror rasa takut.
Bagi banyak orang, Wan berhasil menyingkirkan anggapan minus filmnya punya premis yang sama dengan Paranormal Activity. Mereka mungkin malah tak peduli akan kemiripan itu. Malahan pula, rasanya, lebih banyak orang akan menyukai pilhan kreatif yang dipilih Wan bersama penulis skenario langganannya, Leigh Whannell. Bagi kebanyakan penonton mungkin mengisahkan sebab-musabab peristiwa yang terjadi di film pertama adalah pilihan logis.
***
Bab 2 diakhiri kalau filmnya bisa berlanjut ke bab 3 dan mungkin bab-bab seterusnya. Para cenayang jagoan kita, termasuk Elise yang sudah berwujud arwah, mendatangi rumah yang penghuni kemasukan setan.


Melihat adegan akhir ini saya seketika berpikir: duh, franchise Insidious sepertinya bakal jadi bentuk lain The Conjuring hanya bedanya yang satu pasangan suami-istri pengusir hantu dengan peralatan klasik tahun 1970-an, yang satu lagi pengusir hantu yang salah satu cenayangnya sudah berwujud arwah.

Melihat horor yang kian rutin ini saya hanya bisa hening. Saya jadi kian tak terlalu berharap film-film horor yang kemudian dibuat sekuel atau prekuelnya akan melampaui orisinalitas film pertamanya.


Sumber : http://www.tabloidbintang.com/

Comments

Popular posts from this blog

Skripsi Dihapuskan Karena Covid-19? Yang Benar Saja!

PENDIDIKAN